Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Yang Luput dari Peringatan Hari Santri

Oleh Ahmad Ilham Zamzami

numesir by numesir
24 October 2021
in Kolom
0
0
SHARES
175
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Ada yang luput di balik gempita perayaan Hari Santri setiap 22 Oktober. Suatu hal yang menjadi identitas intelektual santri yang dengannya, mereka bisa membumikan ajaran Islam secara aktual dan kontekstual. Hal yang luput itu ialah turats dan interaksi intelektual dalam membaca, menganalisis, serta mewicarakannya di kehidupan sehari-hari. Interaksi dengan turats merupakan sumber abadi dalam mengembangkan wacana keagamaan dan meneguhkan peradaban.

Dengan mengacu pada deskripsi Muhammad Imarah dalam Fî Fiqh al-Mushthalâhât: al-Tajdîd wa al-Turâts wa al-‘Ushûliyyah wa al-Târîkhiyyah, turats Islam terbagi menjadi dua komponen, yaitu a) turats mukadas dan b)  pemikiran. Yang pertama direpresentasikan oleh al-Quran dan Hadits. Kedua sumber hukum Islam ini disebut sakral karena bersumber dari wahyu Tuhan. Tingkat kesahihan wurud dan kandungan isi keduanya bersifat pasti (qath`î ad-dilâlah), tidak memberikan ruang bagi akal untuk mengeksplorasi dan interpretasi. Sedangkan yang kedua, khazanah intelektual (al-turâts al-fikri) bersumber dari hasil kajian cendekiawan Islam atas dua nas sakral tersebut dan dialektikanya dengan realitas sosial. Dari situlah, semua diskursus keislaman berkembang seiring semangat zaman.

Al-Turats al-fikrî—untuk penyebutan selanjutnya cukup dengan turats atau khazanah intelektual saja—secara limitatif didefinisikan dengan, “produk pengetahuan, hukum, dan peradaban yang dihasilkan oleh cendekiawan Islam, dan ditransformasi melalui media oral maupun tulisan yang dibuat sebelum seratus tahun,” sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali Jumah dalam al-Tharîq ‘ilâ al-Turâts al-Islâmiy.  Bertolak dari situ, pentingnya turats bagi umat Islam tidak dapat dimungkiri, khususnya untuk mengenal tradisi intelektual para pemikirnya. Memahami turats, artinya memahami metodologi ulama terdahulu dalam membumikan nilai-nilai normatif agama ke dalam realitas dan mengkontekstualisasikannya sesuai kebutuhan zaman. Untuk itu, memahami turats menuntut piranti-piranti keilmuan yang khas dan serius. Sayangnya, sebagian umat Islam—khususnya di Indonesia—belum bisa berinteraksi dengan baik dengannya.

Turats di Pesantren

Di sebagian pesantren, turats memiliki kedudukan sakral. Ia setara kesuciannya dengan al-Quran dan Hadits. Pendudukan turats semacam ini berakibat pada minimnya kajian kritis dan mendalam terhadap pemahaman ulama akan kedua sumber utama tersebut. Padahal, objek kajian di dalam al-Quran dan Hadits ada yang perlu diteliti dan dikontekstualisasikan ulang. Diperbarui. Buntutnya, kajian diskursus Islam di sebagian pesantren bisa dikatakan stagnan.

Dalam persoalan fikih, misalnya, hukum selalu berkaitan dengan ilat. Ilat, selalu berbeda antara satu daerah dengan yang lain tergantung kultur dan kondisi sosial masyarakat di mana hukum akan ditelurkan. Sering kali, fakih mengeluarkan fatwa dengan bekal pemahaman teks saja tanpa pengkajian mendalam mengenai hal-hal seputar teks. Imam al-Qarrafi dalam Anwâr al-Burûq fi ‘Anwâ’ al-Furûq-nya menegaskan bahwa sikap fakih demikian tidaklah tepat. Ia menuturkan bahwa sepatutnya seorang mufti tidak terpaku pada kitab-kitab fikih saja. Seorang fakih perlu mengidentifikasi ulang persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus penyebab yang melatarbelakanginya. Alasannya, bisa jadi apa yang ada di dalam buku-buku ulama sebelumnya berbeda dengan apa yang dihadapi oleh mereka di zaman ini.

Contoh lain, misalnya teologi Islam. Membaca buku kalam-filsafat hanya berbekal ilmu linguistik, semisal perangkat diskursus morfologi (tashrîf), gramatika (nahw), dan elokuensi (balâghah) bahasa Arab akan berujung pada pemahaman tekstual dan tidak utuh atas masalah yang sesungguhnya penting. Akibatnya, nilai metodologis yang terkandung di dalam buku-buku dimaksud tidak terjamah. Padahal, perbendaharaan ilmu para teolog Islam hanya dapat digali dengan ilmu linguistik dan logika, secara bersamaan. Untuk itu, ilmu mantik, etika berdebat (adâb al-bahts wa al-munâzharah) serta ilmu perihal sepuluh entitas substansi materi dan aksidental (al-maqûlât al-‘asyrah atau ten categories) mutlak diperlukan dalam membaca khazanah akidah Islam (turâts al-‘aqā`id al-`islāmiyyah).

Bagaimana Turats Disikapi?

Selain kalangan pesantren, turats juga disikapi oleh kalangan progresif. Islam progresif menurut Taha Abdur Rahman terbelah menjadi dua kelompok. Pertama, mereka yang skeptis terhadap turats. Para pemikir golongan ini berupaya memotong jalur penghubung antara khazanah klasik Islam dengan dunia masyarakat Islam saat ini. Pemotongan ini dirasa perlu sebab menurut mereka turats merupakan simbol kejumudan dan kemunduran. Kedua, mereka yang mengusung revitalisasi turats dengan mengadopsi nilai-nilai filsafat yang terkandung di dalamnya. Dua kelompok tersebut sebenarnya sama-sama tidak berlaku adil dalam memosisikan turats. Alasannya, kelompok kedua hanya mengambil teori-teori filsafat untuk revitalisasi. Padahal secara genealogi, filsafat Islam adalah hasil bentukan ulang cendekiawan Islam dari para filsuf Yunani.

Lalu, interaksi turats yang semestinya seperti apa?

Pertama, pembacaan atas khazanah klasik Islam harus dibekali dengan ilmu linguistik dan logika yang mumpuni. Penguasaan atas nahu, balaghah dan mantik dipakai untuk mendedah kandungan metodologis dan cara berpikir para teolog maupun filsuf. Tanpa kecakapan di ketiga ilmu in, kalam dan filsafat mustahil dipahami.

Kedua, setelah berbekal cukup dengan ilmu nahu, mantik, balaghah, etika berdebat serta kategori, revitalisasi metodologis turats bisa dimulai dengan penyesuaian tertentu dengan persoalan kontemporer.

Dari kedua hal di atas, turats akan menemukan momentumnya sebagai pengawal majunya peradaban Islam hari ini karena ia adalah akar hidup bagi majunya peradaban Islam di belasan abad silam. Semoga tulisan ini bisa menggugah para pengemban pesantren dan para santri untuk bisa lebih mengembangkan kembali interaksi yang aktual dan komprehensif terhadap turats. Tanpanya, identitas ke-santri-an dari sisi intelektual akan lapuk dimakan perubahan zaman.

Editor: Hamidatul Hasanah

Ilustrator: Khairuman

Tags: Hari Santri
ShareTweetSend
numesir

numesir

Akun tim redaksi numesir.net 2022-2024. Dikelola oleh Divisi Website Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) PCINU Mesir.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah